News

Cold Chain Logistics: Pengertian, Manfaat, dan Jenis Produk

Cold Chain Logistics: Pengertian dan Manfaat

Cold chain logistics adalah sistem rantai pasok berpendingin yang menjaga produk sensitif suhu, seperti makanan segar, produk beku, vaksin, dan obat-obatan, tetap berada di rentang suhu yang tepat sejak diproduksi hingga diterima konsumen. Sistem ini mencakup cold storage, kemasan berinsulasi, kendaraan berpendingin (reefer), dan pemantauan suhu di setiap tahap pengiriman.

banner news

Pengertian cold chain logistics

Sesuai dengan namanya, cold chain logistics adalah transportasi pengiriman yang dilengkapi dengan teknologi pendingin dan banyak dibutuhkan untuk komoditas pangan yang bersifat perishable atau membutuhkan perhatian khusus saat ingin dikiriman karena sifatnya yang mudah rusak.

Melansir dari laman Supply Chain Indonesia, Cold chain menjadi salah satu metode pengiriman produk yang aman dan terjamin dengan mempertahankan persyaratan suhu dan kelembapan tertentu. Untuk melakukan ini, perusahaan cold chain logistics menggunakan cold storage untuk memastikan bahwa produk yang Anda butuhkan dalam keadaan segar saat diterima, bahkan setelah diangkut jarak jauh.

Adapun desain dan penggunaan cold storage yang benar dapat mengurangi kerusakan selama penyimpanan dan memperpanjang masa simpan produk. Oleh karenanya, diperlukan desain yang optimal, seperti:

  • Keseragaman dan kestabilan suhu dalam seluruh ruangan cold storage
  • Distribusi udara yang baik untuk mempertahankan keseragaman suhu
  • Sirkulasi udara minimum untuk mencegah dehidrasi

Untuk dapat mendinginkan produk ini, bergantung pada faktor tertentu seperti musim dan ukuran pengiriman, serta es yang digunakan, seperti:

  • Es Kering: Es ini dapat membuat produk tetap beku untuk waktu yang lama.
  • Paket Gel: Biasanya untuk pengiriman farmasi atau medis.
  • Eutectic Plates: Pelat dingin yang dapat digunakan kembali berkali-kali.
  • Nitrogen Cair: Untuk pengiriman bersifat biologis, seperti organ dan jaringan, untuk diangkut dan dibekukan untuk jangka waktu yang lebih lama.
  • Quilts: Es Diisolasi dan dibungkus di sekitar produk tertentu atau diletakkan di atasnya untuk menjaga suhu konstan.
  • Reefers:Truk atau van yang dikontrol suhu dan menyediakan sirkulasi udara.

Baca juga: FTL dan LTL: Pengertian, Kelebihan, dan Kekurangannya

Manfaat cold chain logistics

Selain untuk mengelola suhu produk yang mudah rusak dan memastikan bahwa produk tersebut aman konsumen, terdapat manfaat lainnya yang dapat diketahui sebagai berikut:

  • Mempertahankan kualitas produk
    Cold chain logistics membantu mempertahankan kualitas produk yang sensitif terhadap suhu. Produk seperti makanan segar, obat-obatan, dan bahan kimia memerlukan lingkungan yang terkendali untuk mencegah kerusakan atau penurunan kualitas.
  • Memperpanjang masa simpan produk
    Dengan mempertahankan suhu yang optimal, memungkinkan produk untuk memiliki masa simpan yang lebih lama. Ini karena proses pendinginan atau pembekuan yang berjalan tepat dapat menghambat pertumbuhan bakteri, mikroba, dan enzim yang dapat merusak produk, sehingga produsen dan distributor dapat menjaga persediaan mereka lebih lama sebelum produk mencapai pelanggan.
  • Meningkatkan keamanan produk
    Suhu yang terkendali juga dapat membantu mencegah pertumbuhan mikroorganisme berbahaya yang dapat menyebabkan keracunan makanan atau kerugian kesehatan lainnya. Misalnya, dalamindustri farmasi, suhu yang stabil dan terkendali dapat menjaga keamanan dan efektivitas obat-obatan.
  • Mengoptimalkan efisiensi operasional
    Proses transportasi dan penyimpanan yang terorganisir dalam cold storage di cold chain dapat meminimalkan risiko kerusakan atau kehilangan produk. Ini dapat mengurangi pemborosan, biaya perbaikan, dan kehilangan pendapatan yang dapat terjadi akibat kerusakan produk.
  • Meningkatkan reputasi perusahaan
    Dengan memastikan produk tiba dalam kondisi yang baik dan segar, perusahaan bisa membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan. Reputasi yang baik dalam menjaga kualitas produk dan keamanan konsumen dapat membantu perusahaan memenangkan persaingan dan memperluas pasar.

Baca juga: Tipe-Tipe Kendaraan Cold Chain yang Paling Sering Digunakan

Produk yang perlu pengiriman cold chain logistics

Pengiriman yang menggunakan cold chain logistics sangat penting untuk produk-produk yang memerlukan pengawetan suhu rendah. Berikut beberapa jenis produk yang umumnya menggunakan cold chain logistics:

  • Makanan Segar
    Produk-produk makanan segar seperti buah-buahan, sayuran, daging, ikan, makanan laut, dan produk susu membutuhkan suhu yang terkendali selama transportasi dan penyimpanan agar tetap segar dan aman dikonsumsi. Oleh karenanya, diperlukan cold chain logistics untuk membantu mencegah kerusakan dan menjaga kualitas serta kesegaran makanan segar.
  • Produk Beku
    Makanan beku, es krim, dan produk beku lainnya membutuhkan cold chain logistics untuk menjaga suhu rendah dan mencegah produk dari kehilangan kualitas, kehilangan rasa, atau kerusakan fisik.
  • Obat-obatan dan Vaksin
    Industri farmasi sangat mengandalkan cold chain logistics dalam pengiriman obat-obatan dan vaksin. Suhu yang tepat dan stabil sangat penting untuk memastikan obat-obatan tetap aman, efektif, dan tidak rusak selama transportasi dan penyimpanan.
  • Produk Kimia
    Bahan baku farmasi, bahan kimia industri, dan berbahaya lainnya juga memamaki pengiriman menggunakan cold chain. Suhu yang terkendali penting untuk mencegah reaksi kimia yang tidak diinginkan atau kehilangan kestabilan produk.
  • Produk Kosmetik
    Beberapa produk perawatan kulit, parfum, dan produk perawatan rambut juga membutuhkan pengiriman dengan suhu yang tepat membantu menjaga kualitas produk dan mencegah perubahan dalam tekstur, aroma, atau komposisi bahan.
  • Bunga Segar
    Suhu yang terkendali juga dapat membantu memperlambat proses pencairan dan mempertahankan kualitas serta penampilan bunga selama pengiriman.
  • Produk Susu dan Daging Ternak
    Produk-produk seperti susu segar, produk susu olahan, daging segar, dan produk daging olahan juga membutuhkan cold chain logistics. Ini karena suhu yang rendah membantu mencegah pertumbuhan bakteri dan mempertahankan kualitas serta keamanan produk hewani.

Baca juga: Visibilitas pada Cold Chain untuk Proses yang Lebih Efisien

Rentang suhu cold chain untuk tiap jenis produk

Setiap produk punya batas suhu sendiri. Karena itu, langkah pertama dalam cold chain logistics adalah mengetahui kategori suhu produk yang dikirim. Berikut acuan umum yang banyak dipakai di industri:

Kategori suhu Rentang umum Contoh produk
Beku (frozen) -18°C atau lebih dingin Daging dan ayam beku, seafood beku, makanan beku siap saji, es krim
Dingin (chilled) untuk farmasi 2–8°C Vaksin, insulin, dan obat atau produk biologis yang berlabel “simpan di lemari pendingin”
Dingin untuk pangan segar 0–4°C Daging segar, ikan segar, susu segar, dan produk olahan susu
Suhu ruang terkendali 15–25°C Obat dan suplemen tertentu, sebagian kosmetik, dan bahan kimia yang tidak tahan panas
Buah dan sayuran Berbeda per jenis Sebagian buah tropis justru rusak bila disimpan terlalu dingin, jadi suhunya perlu disesuaikan per komoditas

Rentang di atas adalah acuan umum. Dalam praktiknya, selalu ikuti suhu yang tertulis di label produk, spesifikasi dari produsen, dan regulasi yang berlaku, misalnya ketentuan BPOM untuk obat dan vaksin. Baca juga aturan lengkapnya di artikel regulasi cold chain.

Tahapan proses cold chain logistics

Rantai dingin hanya efektif kalau suhu terjaga di semua tahap. Satu tahap yang lalai bisa merusak seluruh muatan. Secara umum, tahapannya seperti ini:

  1. Pendinginan awal (pre-cooling). Produk segar didinginkan segera setelah panen, penangkapan, atau produksi agar suhu produk turun ke rentang yang dibutuhkan sebelum disimpan.
  2. Penyimpanan di cold storage. Produk disimpan di ruang pendingin atau ruang beku dengan suhu stabil. Pelajari jenis-jenisnya di artikel fasilitas cold storage.
  3. Pengemasan. Produk dikemas dengan kotak berinsulasi, gel pack, es kering, atau eutectic plate sesuai lama perjalanan dan kategori suhunya.
  4. Pemuatan (loading). Barang dimuat secepat mungkin, idealnya dari loading dock tertutup, dan bak kendaraan sudah didinginkan lebih dulu sebelum barang masuk.
  5. Transportasi berpendingin. Barang dikirim dengan truk atau van reefer yang suhunya dipantau selama perjalanan.
  6. Transit atau cross-docking. Saat barang dipindah antarkendaraan atau antargudang, waktu di luar ruang pendingin harus sesingkat mungkin.
  7. Pengiriman akhir dan serah terima. Kurir mengantar ke toko, apotek, rumah sakit, atau konsumen. Suhu dicek dan dicatat saat serah terima sebagai bukti produk diterima dalam kondisi baik.

Teknologi monitoring suhu dalam cold chain

Tanpa data suhu, perusahaan tidak bisa membuktikan bahwa produk dikirim sesuai standar. Beberapa teknologi yang umum dipakai untuk memantau suhu antara lain:

  • Data logger suhu. Alat kecil yang merekam suhu secara berkala selama perjalanan. Datanya diunduh setelah barang tiba untuk diperiksa.
  • Sensor IoT real-time. Sensor yang mengirim data suhu dan kelembapan ke sistem secara langsung, sehingga penyimpangan bisa diketahui saat itu juga, bukan setelah barang sampai.
  • Alarm dan notifikasi. Sistem mengirim peringatan ke tim operasional ketika suhu keluar dari batas yang ditentukan, misalnya karena pintu bak terbuka terlalu lama atau mesin pendingin bermasalah.
  • GPS tracking. Posisi kendaraan dipantau bersama data suhu, sehingga tim tahu di titik mana masalah terjadi dan berapa lama lagi barang sampai.
  • RFID dan barcode. Membantu melacak setiap kemasan atau palet dari gudang sampai tujuan.
  • Bukti pengiriman digital (ePOD). Foto, tanda tangan, dan catatan suhu saat serah terima tersimpan otomatis sebagai bukti jika ada klaim.

Semakin terhubung data dari setiap tahap, semakin mudah perusahaan menelusuri penyebab kerusakan. Baca juga: pentingnya visibilitas pada cold chain.

Tantangan cold chain logistics di Indonesia

Menjalankan rantai dingin di Indonesia punya tantangan khusus dibanding negara beriklim sedang. Beberapa yang paling sering dihadapi:

  • Iklim tropis. Suhu udara yang panas dan lembap sepanjang tahun membuat produk cepat naik suhunya begitu keluar dari ruang pendingin, misalnya saat bongkar muat.
  • Wilayah kepulauan. Pengiriman antarpulau sering melibatkan beberapa moda, seperti truk, kapal, dan pesawat. Setiap perpindahan moda menambah risiko rantai dingin terputus.
  • Fasilitas belum merata. Cold storage dan armada berpendingin masih banyak terpusat di kota besar, sehingga pengiriman ke daerah terpencil lebih sulit dan mahal.
  • Biaya operasional tinggi. Kendaraan reefer, listrik untuk ruang pendingin, dan bahan bakar membuat biaya cold chain jauh di atas pengiriman biasa.
  • Kemacetan dan waktu tempuh. Perjalanan yang lebih lama dari rencana membuat mesin pendingin bekerja lebih berat dan menambah risiko keterlambatan.
  • Pencatatan masih manual. Catatan suhu di kertas mudah hilang, terlambat dilaporkan, atau tidak akurat, sehingga masalah baru diketahui setelah produk rusak.

Meski begitu, kebutuhan rantai dingin terus naik seiring berkembangnya bisnis makanan beku, farmasi, dan belanja online. Ulasan lengkapnya ada di artikel pertumbuhan industri cold chain logistics di Indonesia.

Cara MileApp membantu operasional cold chain

MileApp membantu tim operasional menjalankan pengiriman berpendingin dengan lebih terkontrol. Driver bisa mengisi formulir digital untuk mencatat suhu saat muat dan saat serah terima, lengkap dengan foto bukti. Posisi kendaraan dipantau secara real-time, rute bisa dioptimalkan agar waktu tempuh lebih singkat, dan bukti pengiriman tersimpan otomatis. Pelajari selengkapnya di halaman solusi cold chain MileApp.

FAQ seputar cold chain logistics

Apa itu cold chain logistics?

Cold chain logistics adalah sistem rantai pasok berpendingin untuk produk yang sensitif suhu, seperti makanan segar, produk beku, vaksin, dan obat-obatan. Sistem ini mencakup cold storage, kemasan berinsulasi, kendaraan berpendingin, dan pemantauan suhu agar produk tetap berada di rentang suhu yang tepat sampai diterima konsumen.

Berapa suhu cold chain untuk vaksin?

Sebagian besar vaksin disimpan dan dikirim pada suhu 2–8°C. Namun, ada jenis vaksin tertentu yang membutuhkan suhu beku. Karena itu, suhu pengiriman vaksin harus selalu mengikuti label produk dan ketentuan dari produsen serta otoritas kesehatan, dan dipantau sepanjang perjalanan dengan alat pencatat suhu.

Apa perbedaan cold chain dan cold storage?

Cold storage adalah fasilitas penyimpanan berpendingin, sedangkan cold chain adalah keseluruhan rantai prosesnya. Artinya, cold storage hanya salah satu bagian dari cold chain. Rantai dingin juga mencakup pendinginan awal, pengemasan, pemuatan, transportasi berpendingin, dan serah terima ke penerima.

Apa akibatnya jika rantai dingin terputus?

Jika rantai dingin terputus, kualitas dan keamanan produk bisa turun. Makanan bisa lebih cepat busuk atau ditumbuhi bakteri, sementara vaksin dan obat bisa kehilangan efektivitasnya. Produk yang terpapar suhu di luar batas sering kali harus dibuang, sehingga perusahaan menanggung kerugian dan risiko klaim dari pelanggan.

Kendaraan apa yang dipakai untuk cold chain?

Pengiriman cold chain umumnya memakai truk atau van berpendingin (reefer), kendaraan berinsulasi, dan kontainer berpendingin untuk pengiriman jarak jauh. Untuk jarak dekat, kotak berinsulasi dengan gel pack atau es kering juga sering dipakai. Lihat jenisnya di artikel tipe-tipe kendaraan cold chain.

banner news

Dengan menggunakan cold chain logistics, produk-produk ini dapat tetap terjaga kualitasnya, tahan lebih lama, dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan. Daftar MileApp sekarang dan jadikan perusahaan Anda #GoExtraMile.

Sumber:

  • Supplychainindonesia.com
  • Biteship.com
  • Sigmabimed.com