Get in touch
By clicking the button below, you're agreeing with our privacy policy.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Benarkah Layanan Logistik Diklaim Kini Lebih Efisien? Cek Datanya

Benarkah Layanan Logistik Diklaim Kini Lebih Efisien? Cek Datanya

Di era digital yang penuh inovasi, siapa yang pernah membayangkan bahwa industri logistik akan menjadi pemeran utamanya? Namun, kenyataannya adalah begitu! Saat ini, industri logistik terbilang sedang mengalami pertumbuhan luar biasa, dan menjadi bagian tulang punggung yang tak terlihat dari dunia perdagangan modern.Dengan peningkatan perdagangan internasional, kemajuan teknologi, dan dorongan e-commerce yang kuat, logistik telah berubah menjadi mesin raksasa yang mendorong pengiriman cepat, efisiensi, dan kenyamanan.Dalam sebuah pembahasan yang dikutip dari website logistiknews.id, Gabungan importir nasional seluruh Indonesia (GINSI) sangat menyoroti perihal biaya logistik di Indonesia yang diklaim sekarang telah mengalami penurunan dan dianggap lebih efisien saat iniNamun, kini pelaku importasi justru merasakan biaya-biaya tersebut yang cenderung mengalami kenaikan bahkan tidak terkontrol terutama biaya di luar pelabuhan yang berkaitan dengan cost di keagenan kapal dan depo peti kemas kosong (empty) eks impor.Baca Juga: Jenis-Jenis Metode Pengiriman Barang dalam Dunia LogistikMenurut ketua umum BPP GINSI Subandi, seperti mengutip dari website logistik.id, mengungkapkan GINSI memiliki bukti bahwa biaya di luar pelabuhan kini masih sangat tinggi dan belum ada yang membenahi dan menertibkannya. Bahkan jika ingin dikaji serta analisa lagi, masih banyak terdapat komponen biaya-biaya yang tidak ada layanan nya serta juga biaya yang semestinya tidak semahal itu di keagenan kapal dan depo empty.

Makanya, saya tidak percaya jika ada yang bilang biaya logistik indonesia yang tadinya 27% bisa turun ke 23% dan bahkan sekarang dikatakan telah mencapai dikisaran 14%. Dari mana metodologi menghitungnya ?, karena fakta dilapangan biaya logistik justru masih tinggi,” tegas Subandi seperti dalam wawancaranya pada website logistiknews.id.

Namun dalam data lain terkait penggunaan dwelling time, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mencatat, dwelling time per Agustus 2023 di pelabuhan rata-rata kini hanya 2,52 hari, atau lebih cepat dari target pemerintah sebesar 2,9 hari.Dalam Industri Logistik, Dwelling time merujuk pada periode waktu yang dihabiskan oleh kendaraan, seperti truk atau kapal, di lokasi tertentu sebelum mereka diperbolehkan untuk bergerak lebih lanjut. Ini biasanya terkait dengan proses bongkar muat, pemrosesan dokumen, dan hal-hal terkait yang mempengaruhi efisiensi aliran barang.Melansir dari website logistiknews.id, Berdasarkan data dashboard dwelling time INSW, adapun rerata dwelling time pada Agustus 2023 di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta 2,48 hari, Pelabuhan Belawan Sumut 2,63 hari, Tanjung Emas Semarang dan Tanjung Perak Surabaya 2,72 hari, serta Pelabuhan Makassar 2,20 hari.Dalam data tersebut, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso optimistis, hingga 2045 biaya logistik di Indonesia akan semakin turun ke depan hingga mencapai tersisa 8% dari PDB. Didukung oleh semakin efektif dan efisiennya pembangunan infrastruktur yang menunjang arus transportasi logistik.

Namun perlu juga diakui bahwa utilisasi Infrastruktur logistik Indonesia terutama di pelabuhan memang masih terjadi ketimpangan antar daerah di Indonesia, khususnya di Indonesia Timur yang masih di bawah 50%,” tutupnya, dikutip dari logistiknews.id

Baca Juga: Bappenas Targetkan Biaya Logistik Efisien, Turun 9% di 2045Sumber:

  • Logistiknews.id
  • mceasy.com
  • MileApp