Get in touch
By clicking the button below, you're agreeing with our privacy policy.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

NLE terus Dikembangakan Guna Wujudkan Reformasi Logistik 4.0

NLE terus Dikembangakan Guna Wujudkan Reformasi Logistik 4.0

Dengan tujuan menghapus duplikasi dan mengintegrasikan serta memperbaiki sistem logistik menjadi layanan single submission, Ekosistem Logistik Nasional atau National Logistic Ecosystem (NLE) terus dikembangkan. Menyadur Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, National Logistics Ecosystem (NLE) adalah kebijakan untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional, dengan memastikan kelancaran pergerakan arus barang ekspor dan impor, maupun pergerakan arus barang domestik, baik antar daerah dalam satu pulau, maupun antar pulau.Hal ini melanjutkan Reformasi Logistik 3.0 melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional. Lantas, bagaimana perkembangannya hingga saat ini, simak ulasan berikut dilansir dari Kompas.

Inisiasi Dimulai dari Perpres No. 26 Tahun 2012

[caption id="attachment_6596" align="aligncenter" width="800"]

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso memberikan penjelasan terkait peningkatan kinerja logistik nasional.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso memberikan penjelasan terkait peningkatan kinerja logistik nasional (DOK KEMENKO PEREKONOMIAN)[/caption]Fokus Pemerintah akan mengembangkan NLE telah dimulai sejak diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional. Kemudian hal ini diteruskan melalui penerbitan Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) Tahap XV pada 2017 untuk pengembangan usaha dan daya saing penyedia jasa logistik nasional.Baca juga:Bappenas Targetkan Biaya Logistik Efisien, Turun 9% di 2045

NLE Efektifkan Dwelling Time

[caption id="attachment_6460" align="aligncenter" width="735"]

Ilustrasi container (unsplash.com)

Ilustrasi container (unsplash.com)[/caption]

“Upaya pembenahan sistem logistik nasional tersebut telah membuahkan hasil dengan dwelling time nasional pada Agustus 2023 mencapai 2,52 hari," jelas Susiwijono Moegiarso selaku Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada acara Forum Diskusi Peningkatan Kinerja Logistik melalui Utilisasi Layanan National Logistic Ecosystem (NLE), Selasa (10/10/2023).

Hasil yang cukup efektif tersebut unggul di kawasan ASEAN dan terperingkat sedikit di bawah Singapura.

"Kita apresiasi untuk teman-teman logistik nasional,” ungkap Susiwijono

Baca juga: Bisnis Transportasi dan Logistik jadi penopang Ekonomi RI 2023, Cek Datanya

Optimasi Infrastuktur dan KPI akan Dilakukan

[caption id="attachment_6320" align="aligncenter" width="700"]

Ilustrasi logistik (unsplash.com)

Ilustrasi logistik (unsplash.com)[/caption]Diketahui, dari data tersebut, optimasi sistem pengawasan kinerja logistik nasional juga akan dilakukan dengan memetakan KPI yang dapat menggambarkan kondisi logistik secara real-time serta kuantitatif. Hal utama yang ingin ditingkatkan adalah:

  • Biaya logistik
  • Reability atau kemampuan untuk konsisten menjaga kualitas layanan
  • Speed atau kecepatan pengiriman barang
  • Agility atau kemampuan beradaptasi dengan cepat

Untuk mendukung hal ini, sebelumnya, Menko Airlangga bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengeluarkan Biaya Logistik Nasional dengan menggunakan basis data tabel input-output yang dimiliki BPS.

Biaya Logistik Nasional Saat Ini

Dari data BPS, biaya logistik Indonesia saat ini mencapai 14,29 persen dari PDB. Angka tersebut menjadikan Indonesia negara yang paling kompetitif di ASEAN pada bidang logistik. Diharapkan, dalam kurun 10 tahun kedepan biaya ini dapat diturunkan hingga kisaran 10 persen dari PDB dan ditargetkan turun 8 persen dari PDB pada 2045.

Optimalisasi infrastruktur pelabuhan terus dilakukan

Di sisi lain, saat ini, rata-rata utilisasi pelabuhan kawasan timur Indonesia masih di bawah 50 persen. Untuk meningkatkan hal ini, Pemerintah terus meningkatkan infrastruktur pelabuhan yang bersumber dari optimalisasi volume traffic atau subsidi bagi pelabuhan yang minim traffic (non-commercially viable) di kawasan timur. Baca juga: 13 Manfaat TMS dalam Meningkatkan Efisiensi Transportasi Perusahaan Anda

Perkembangan Lainnya Dilakukan

[caption id="attachment_5412" align="aligncenter" width="700"]

Ilustrasi pelabuhan (unsplash.com)

Ilustrasi pelabuhan (unsplash.com)[/caption]Untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi biaya logistik, Pemerintah juga didorong inisiatif kebijakan berupa peningkatan logistik berbasis komoditas (commodity-based approach) untuk menciptakan sentra industri baru unggulan di Indonesia Timur. Selain itu, penggunaan transportasi multimoda dan pengembangan kawasan logistik terintegrasi dapat menjadi hub and spoke.

“Kami mengundang inspirasi, ide, dan masukan konstruktif dari para pelaku industri logistik Indonesia, akademisi, dan pakar untuk menggagas perbaikan sistem logistik nasional agar lebih cemerlang. Kami juga menekankan sinergi dan kolaborasi sebagai kunci menjaga resiliensi ekonomi, memastikan tercapainya target pertumbuhan ekonomi, serta mendukung keberhasilan Reformasi Logistik 4.0 guna tercapainya visi Indonesia Emas 2045,” tutup Sesmenko Susiwijono.

Sumber:

  • kompas.id
  • ekon.go.id