Get in touch
By clicking the button below, you're agreeing with our privacy policy.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Risk Appetite: Pengertian dan Perannya dalam Pertumbuhan Logistik

Risk Appetite: Pengertian dan Perannya dalam Pertumbuhan Logistik

Risk appetite adalah aspek yang sangat penting dalam pengelolaan/manajemen perusahaan. Aspek tersebut bekerja dengan sangat cermat dan teliti. Ini karena risk appetite mampu menyampaikan informasi tingkatan risiko yang bisa dihadapi oleh pelaku usaha. Ketika perusahaan mendapatkan informasi penting tersebut, perusahaan bisa lebih baik dalam mengelola risiko. Dengan begitu, perusahaan bisa fokus mencapai target dan tujuan. Inilah yang akan menjembatani progress perusahaan. Lalu, bagaimana jika sebuah perusahaan tidak memedulikan selera risiko? Dalam. Beberapa waktu, perusahaan mungkin masih berjalan dengan baik. Namun, lambat laun, perusahaan akan merasa kewalahan dalam menghadapi risiko yang ada. Ada banyak lagi hal yang akan terjadi ketika selera risiko tidak diperkiraan. Yang pasti, perusahaan bisa saja menemui banyak kendala selama melaksanakan kegiatan operasional. Bukan hanya tidak lancar, bahkan perusahaan terancam gagal. Untuk lebih jelasnya, kita pahami terlebih dahulu apa itu risk appetite secara spesifik. Setelah itu, kita urai bersama bagaimana peran risk appetite tersebut. Berikut penjelasan detailnya:

Pengertian Risk Appetite

[caption id="attachment_4599" align="aligncenter" width="700"]

ilustrasi pekerja memantau stok barang (pinterest.com) [/caption]Risk Appetite (Selera Risiko) merupakan tingkat atau jumlah resiko yang akan perusahaan ambil dan hadapi selama beroperasi. Dengan kata lain, risk appetite adalah adalah strategi based on risk untuk mencapai goal atau tujuan strategisnya.Sebagaimana yang kita tahu, bahwasannya dunia tidak pernah lepas dari resiko. Tidak heran, setiap organisasi (termasuk bisnis) harus mau mengambil resiko demi visi misi yang telah disusun sempurna. Dalam dunia bisnis, setiap perusahaan mempunyai selera risiko yang tidak sama. Hal ini tergantung tujuan, budaya, dan juga sektor masing-masing perusahaan. Selera risiko tersebut menunjukkan/mencerminkan konteks perusahaan baik dari segi internal maupun eksternal. Namun, kita tidak bisa meraba secara detail batas resikonya. Ini karena prioritas dan kebutuhan setiap perusahaan juga tidak sama. Meski demikian, sudah menjadi tugas pengelola perusahaan untuk menetapkan dan menerapkan pemahaman resiko bersama. Dengan begitu, anggota perusahaan tidak sekadar resiko apa yang akan dihadapi, tetapi juga cara menguranginya. Risk Appetite mengajak para pebisnis untuk menerapkan konsep bahwa setiap resiko ikut andil dalam kesuksesan perusahaan. Maka, ini juga berlaku dalam pengambilan strategi terkait penghindaran risiko. Dengan kata lain, manajemen resiko menjadi aspek yang sangat penting dalam memajukan sebuah usaha. Itulah sebabnya, perusahaan harus merencanakan dengan apik tindakan yang berpotensi mengurangi tingkat resiko. Biasanya, perusahaan akan menggambarkan dan menjelaskan secara detail mengenai risk appetite dalam dokumen khusus. Tentu saja, dokumen tersebut memuat penjabaran selera risiko perusahaan. Lantas, apa manfaat dokumen tersebut? Dengan langkah itu, perusahaan akan sangat terbantu dalam mengendalikan atau mengatasi resiko. Dalam hal ini, bukan satu atau dua orang saja yang memutuskan. Artinya, para pemangku perusahaan juga harus bersuara dan menyumbangkan perspektif. Sayangnya, hingga detik ini, masih banyak perusahaan yang menyepelekan hal tersebut. Bahkan, mereka kerap kali tidak memedulikan atau bahkan mendiskusikan selera resiko. Padahal, ketika perusahaan memperhatikan betul risk appetite dalam aktivitas sehari-hari, tujuan akan mudah sekali tercapai. Setiap keputusan pun akan membuahkan hasil yang baik. Baca juga: Distribution Management System: Pengertian dan Manfaat

Peran Penting Risk Appetite dalam Pertumbuhan Logistik

[caption id="attachment_4352" align="aligncenter" width="700"]

ilustrasi pekerja melakukan monitoring barang logistik dengan risk appetite adalah

ilustrasi pekerja melakukan monitoring barang logistik (pinterest.com) [/caption]Risk appetite adalah pemegang banyak peranan penting dalam pertumbuhan perusahaan/logistik. Peranan tersebut antara lain:

Pengelola Risk Exposure (Eksposur Risiko) dalam Perusahaan

Salah satu fungsi/peran risk appetite adalah membantu mengelola risk eksposur dalam pertumbuhan perusahaan. Lantas, apa itu risk exposure? Risk eksposure merupakan potensi resiko/kerugian dari setiap kegiatan bisnis yang telah direncanakan atau sedang berlangsung. Perusahaan perlu sekali mengamati dan mengelola tingkat kerugian/resiko. Biasanya, perusahaan menghitung tingkat eksposur dengan mengalikan dua hal, yaitu jumlah potensi risiko dan probabilitas insiden risikoDalam dunia bisnis, pelaku usaha dapat menggunakan risk eksposur untuk menganalisis level kemungkinan risiko. Dengan begitu, perusahaan bisa menentukan risiko mana yang mampu diterima dan dihadapi atau tidak. Bentuk risk eksposur sangat beragam. Misalnya, financial, properti, tanggung jawab hukum, perubahan permintaan, pergantian karyawan, dan sebagainya. Dalam hal ini, risk appetite membantu perusahaan menjalankan perhitungan risk eksposur. Nantinya, perusahaan akan dengan mudah menentukan setiap jenis dan tingkat risiko. Tepatnya adalah risiko-risiko yang bisa diterima berdasarkan biaya, manfaat, dan aspek penting lainnya. Baca juga: Sales Tracking Sales: Pengertian, Fitur dan Keuntungan

Membantu Membuat Keputusan Based on Risk

Selanjutnya, risk appetite juga bisa membantu perusahaan untuk menentukan keputusan based on risk (berbasis resiko). Artinya, sebelum bertindak, perusahaan bisa melihat dulu bagaimana potensi risiko yang akan datang. Risiko akan muncul ketika manajer (pengelola perusahaan) tidak mempunyai informasi yang tepat dan sempurna. Dalam artian, informasi tersebut masih simpang siur. Informasi yang dimaksud berkaitan dengan tindakan alternatif untuk memajukan perusahaan. Maka, ketika perusahaan dalam keadaan berisiko, pengelola tidak bisa mengambil gagasan dan alternatif yang bagus. Untuk membuat keputusan based on risk, manajer harus tahu terlebih dahulu bagaimana probabilitas setiap tindakan. Manajer bisa melakukannya berdasarkan pengalaman. Manajer juga bisa menggunakan pendekatan tertentu. Misalnya, EOL dan EMV. Di sinilah peran risk appetite. Perusahaan akan mendapatkan ukuran yang kuat dan akurat sebagai pedoman untuk mengambil keputusan. Sehingga, manajer dan anggota perusahaan lainnya akan berhati-hati setiap kali bertindak. Baca juga: Cold Chain Logistik: Pengertian dan Manfaat

Mengalokasikan Sumber Daya Perusahaan

Sumber daya perusahaan merupakan segala hal yang menjadi aset perusahaan. Sumber daya tersebut bisa berupa banyak hal. Misalnya, tenaga kerja, fisik, finansial, dan kemampuan teknologi. Tentu saja, perusahaan tidak bisa mengabaikan keberadaan sumber daya. Sebaliknya, perusahaan harus mampu mengalokasi dan mengelolanya. Untuk mengalokasikan sumber daya, perusahaan tidak bisa asal bertindak. Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan risk appetite. Risk appetite akan menuntun perusahaan untuk memetakan sumber daya dengan baik. Tentu saja, itu dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal. Di antaranya adalah:

  1. Ketergantungan sumber daya
  2. Mengidentifikasi sumber daya
  3. Memahami ruang lingkup
  4. Berpikir secara holistik
  5. Realistis
  6. Dan sebagainya

Meningkatkan Transparansi

Peran terakhir dari risk appetite adalah meningkatkan transparansi perusahaan. Transparansi yang dimaksud adalah ditujukan kepada para pemangku kepentingan, investor, regulator, hingga instansi pemberi kredit. Budaya transparansi dalam perusahaan merupakan hal yang positif. Cara ini bisa meningkatkan kepercayaan semua anggota terhadap pengelolaan perusahaan. Meski begitu, ada kerja keras yang dibutuhkan untuk membangun transparansi. Upaya yang diterapkan juga sangat serius baik dari manajer atau anggota lainnya. Namun, ini akan berbeda ketika perusahaan mau menerapkan risk appetite. Selera risiko bisa membuka segala kerugian yang berpotensi masuk sekaligus tindakan untuk meminimalisir. Jika sudah demikian, perusahaan tidak lagi ragu untuk mulai terbuka terhadap semua karyawan. Bahkan, setiap kali ada tanggapan yang buruk dari karyawan, perusahaan bisa mengatasinya dengan tidak meruntuhkan kepercayaan. Baca Juga: Fleet Management System: Pengertian, Fungsi dan Cara MemilihBerdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa risk appetite tidak sekadar mengurai risiko apa saja yang dihadapi pelaku bisnis. Namun, risk appetite juga memegang peranan penting lain untuk mengembangkan serta memajukan sebuah usaha. Sebagaimana yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa risk appetite adalah selera atau tingkatan risiko untuk mencapai target perusahaan. Ketika selera risiko tersebut dikomunikasikan secara detail dan tepat, perusahaan tentu bisa mengelola risiko dengan baik. Oh iya, kami ingin mengajak Anda untuk mendaftar di MileApp sekarang juga dan ungkap potensi sejati dari tenaga kerja Anda. Kendalikan bisnis Anda, optimalkan operasional, dan capai kesuksesan yang tak tertandingi.Kunjungi situs web kami untuk mempelajari lebih lanjut tentang MileApp dan mulailah perjalanan Anda menuju manajemen operasional lapangan yang mulus. Jangan lewatkan kesempatan yang akan mengubah permainan ini – berdayakan pekerja Anda, tingkatkan produktivitas, dan transformasikan bisnis Anda dengan MileApp!Sumber:

  • accurate.id
  • glints.com
  • rwi.co.id