Home » Mengenal Manajemen Risiko HSE di Industri Logistik

Mengenal Manajemen Risiko HSE di Industri Logistik

Published On: May 23, 2023Categories: LogisticsTags: 4.5 min read

Health, Safety, and Environment (HSE) atau K3 adalah sistem operasional perusahaan yang cukup penting dimiliki. Sistem ini ditujukan untuk mencegah berbagai risiko bahaya dalam lingkungan perusahaan serta menjaga keselamatan dan kesehatan kerja. Praktik sistem ini menjadi suatu hal yang wajib di perusahaan guna mengatasi potensi kerugian alias mencegah adanya kecelakaan dan ancaman. 

Dalam dunia logistik, HSE memainkan peran penting untuk mengidentifikasi potensi bahaya dalam setiap tahap pengiriman, termasuk pemrosesan, pengepakan, pengangkutan, dan pengiriman. 

Dengan menerapkan HSE atau K3 pada industri logistik, maka perusahaan telah menjalankan kegiatan perusahaan sesuai dengan 3 standar internasional, yaitu ISO 9001 (Sistem Manajemen Mutu), ISO 14001 (Sistem Manajemen Lingkungan), dan ISO 45001 (Sistem Manajemen K3). Untuk mengetahui lebih dalam tentang manajemen risiko HSE di dunia logistik, berikut ulasannya! 

Jenis-jenis Risiko dalam Logistik

seseorang sedang melakukan pengecekan stok barang untuk sales lapangan

Ilustrasi gudang logistik (freepik.com)

Tak dapat dipungkiri, logistik menjadi salah satu industri yang penuh dengan risiko. Adanya kegiatan pengiriman dan menjaga barang menjadi salah satu bukti industri ini memiliki risiko tinggi. Selain itu, beberapa jenis risiko berikut turut dihadapi:

  • Keterlambatan Pengiriman
    Risiko industri logistik ini terkait dengan adanya keterlambatan dalam pengiriman barang akibat berbagai faktor seperti lalu lintas, cuaca buruk, gangguan di pelabuhan atau bandara, atau masalah teknis pada kendaraan pengangkut.
  • Kerusakan atau Kehilangan Barang
    Kerusukan atau kehilangan barang selama proses pengiriman menjadi risiko yang paling tinggi dalam industri logistik. Hal ini dapat terjadi akibat kesalahan penanganan, kecelakaan, pencurian, atau masalah dalam proses bongkar-muat.
  • Perubahan permintaan dan pasar
    Fluktuasi permintaan pasar dapat mempengaruhi volume dan jadwal pengiriman. Selain itu, adanya perubahan tren musim penjualan, atau perubahan kondisi ekonomi dapat menyebabkan ketidakseimbangan industri ini.
  • Ketergantungan pada rantai pasok
    Jika ada masalah dengan pemasok atau mitra logistik, seperti kebangkrutan, penghentian operasi, atau kualitas yang buruk, dapat menimbulkan risiko negatif pada rantai pasok dan pengiriman barang.
  • Masalah teknis
    Masalah teknis atau kegagalan sistem informasi yang digunakan dalam operasi logistik, seperti kegagalan sistem komputer, serangan siber, atau masalah perangkat lunak berisiko mengganggu proses pengiriman.
  • Ketidaksesuaian kualitas
    Masalah kualitas produk atau layanan seperti, kerusakan produk, cacat produksi, atau ketidaksesuaian dengan standar kualitas yang ditetapkan dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan.
  • Bencana Alam
    Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, badai, atau kebakaran yang dapat berisiko menganggu jalur transportasi, infrastruktur logistik, atau menghancurkan fasilitas penyimpanan. Namun, risiko menjadi risiko yang tidak dapat diprediksi.

Baca juga: Penerapan HSE: Pengertian, Manfaat, dan Penerapannya Pada Transportasi serta Pengiriman

Analisis Risiko dalam Logistik

Seorang pria menggunakan kaca pembesar memeriksa checklist dengan laptopnya.

MileApp akan membantu mengoptimalkan distribusi logistik Anda (sumber: unsplash)

Dengan mengetahui risiko dalam industri logistik, maka analisis risiko dibutuhkan dalam hal ini. Analisis risiko dalam logistik adalah proses identifikasi, penilaian, dan pengelolaan risiko-risiko yang terkait dengan kegiatan logistik seperti pengangkutan, pergudangan, dan pengiriman barang. 

Analisis ini bertujuan untuk meminimalkan risiko dan mengoptimalkan efektivitas operasi logistik. Untuk menganalisisnya, beberapa langkah berikut bisa dilakukan:

  • Identifikasi risiko
    Identifikasi hal mungkin terjadi dalam kegiatan logistik, seperti risiko terhadap keterlambatan pengiriman barang, kerusakan atau kehilangan barang, dan risiko keamanan.
  • Evaluasi risiko
    Evaluasi risiko tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti dampak, probabilitas terjadinya risiko, dan kerentanan.
  • Pengelolaan risiko
    Setelah mengevaluasi risiko, pengelolaan risiko dapat dilakukan. Hal ini memungkinkan melibatkan perubahan pada operasi logistik, investasi atau teknologi baru, atau perubahan dalam kebijakan dan prosedur.

Contoh dari penerapan analisis risiko dalam logistik adalah dengan menggunakan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Metode ini mengidentifikasi dan menganalisis kemungkinan penyebab kegagalan dan dampaknya terhadap operasi logistik, kemudian mengevaluasi dampak dan kemungkinan terjadinya.

Baca juga: FTL dan LTL: Pengertian, Kelebihan, dan Kekurangannya

Bagaimana Risiko Logistik dapat Dikurangi?

manfaat wms

Ilustrasi management HSE (sumber: Freepik.com/Lifestylememory)

Setelah mengetahu berbagai jenis risiko yang dihadapi industri logistik, maka Anda juga perlu tahu bagaimana cara mengurangi risiko logistik. Tentu saja, ini merupakan suatu tantangan yang berkelanjutan. Oleh karenanya, beberapa langkah berikut dapat Anda pahami untuk mengurani risiko tersebut:

  • Identifikasi dan kelola risiko
    Cara mengurangi risiko logistik ini dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai risiko yang mungkin terjadi dalam operasi logistik. Perlu adanya perhatian pada aspek-aspek risiko seperti keterlambatan pengiriman, kerusakan barang, kekurangan stok, ketergantungan pada pemasok atau mitra logistik, hingga masalah teknis. Setelah mengetahui risiko yang akan dihadapi, selanjutnya tentukan langkah-langkah pencegahan, mitigasi, dan penanggulangan untuk setiap risiko yang telah diidentifikasi.
  • Kurangi ketergantungan pada rantai pasok
    Dengan melakukan diversifikasi pemasok dan mitra logistik, Anda tak terlalu bergantung pada satu pemasok atau mitra logistik. Jalin hubungan dengan beberapa pilihan pemasok dan mitra logistik yang dapat memberikan fleksibilitas dan keberlanjutan.
  • Tingkatkan kualitas dan pelatihan karyawan
    Jika ingin mengurangi risiko rendahnya ketidaksesuaian kualitas, maka meningkatkan kualitas layanan dan produk yang dikirimkan dengan melakukan pelatihan reguler kepada karyawan terkait penanganan barang, pengemasan, dan pengiriman yang tepat untuk mengurangi risiko kerusakan atau kehilangan dapat menjadi caranya.
  • Siapkan rencana darurat dan asuransi
    Rencana darurat yang terstruktur dan komprehensif membantu perusahaan Anda untuk menghadapi situasi yang tak terduga seperti bencana alam, kecelakaan, atau kejadian lain yang dapat mengganggu operasi logistik. Pastikan pula untuk memiliki asuransi yang dapat melindungi dari risiko kerusakan, kehilangan, atau tanggung jawab hukum.
  • Evaluasi dan perbaikan berkelanjutan
    Lakukan evaluasi berkala terhadap operasi logistik dan identifikasi area yang dapat ditingkatkan, sehingga efisiensi operasi bisa meningkat dan risiko dapat dikurangi mengurangi.

Baca juga: Implementasi HSE Risk Management dalam Logistik

Pentingnya kultur keselamatan dalam logistik bukan hanya untuk melindungi karyawan, tetapi juga untuk meminimalkan risiko kecelakaan dan cedera, menjaga keberlanjutan operasi, dan melindungi lingkungan. Daftar MileApp sekarang juga sebagai proses digitalisasi HSE optimal dan #GoExtraMile.

Sumber :

  • Ener8.com
  • Lucidity.io
  • Researchgate.net