Get in touch

By clicking the button below, you're agreeing with our privacy policy.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Peran Penting Logistik Terintegrasi dalam Program Hilirisasi Pemerintah

Peran Penting Logistik Terintegrasi dalam Program Hilirisasi Pemerintah

Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk mengembangkan program hilirisasi di sektor pertambangan setelah sukses dalam mengolah komoditas nikel. Langkah ini dilakukan dengan tujuan mendorong pengolahan mineral lainnya, seperti tambaga, aluminium, dan bauksit. 

Dalam hal ini, Indonesia berupaya menjadi negara industrialis, melangkah dari status negara berkembang menuju negara maju. Namun, menerapkan program hilirisasi ini tak terlepas dari peran penting sistem logistik terintegrasi. Lantas, bagaimana sistem logistik terintegrasi dapat membantu proses ini? Simak ulasan berikut.

1. Meningkatkan efisiensi operasional logistik

gudang logistik
Ilustrasi gudang logistik (pexels.com)

Menurut Setijadi selaku CEO Supply Chain Indonesia (SCI), program hilirisasi harus didukung sistem logistik terintegrasi berbasis komoditas atau produk untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional logistik dalam prosesnya agar berpotensi meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas/produk itu. 

“Efisiensi sangat diperlukan karena biaya logistik Indonesia yang tinggi. Berdasarkan data Kementerian PPN/Kepala Bappenas, biaya logistik nasional Indonesia sebesar 14,1 persen terhadap harga barang,” ujarnya pada Kamis (25/1/2024) .

Nantinya, penyiapan sistem logistik secara terintegrasi dapat mendukung hilirisasi berdasarkan pemetaan pasokan dan permintaannya dalam jangkauan pasar domestik maupun ekspor.

Baca juga: National Logistic Ecosystem: Pengertian, Kewajiban, dan Keuntungan

2. Mengintegrasikan jasa-jasa logistik

mengintegrasikan jasa
Ilustrasi jasa logistik (pexels.com)

Disamping membuat efisien operasional logistik, sistem logistik itu juga harus mengintegrasikan jasa-jasa logistik dari para penyedia jasa logistik. “Penyiapan sistem logistik itu harus memperhatikan wilayah asal komoditas, lokasi industri pengolahan awal, lokasi industri pengolahan akhir, dan wilayah tujuan akhir, berikut jalur-jalur distribusinya,” jelas Setijadi.

3. Menjadi jawaban dari tantangan konektivitas logistik

kontainer logistik
Ilustrasi kontainer logistik (pexels.com)

Setijadi juga mengatakan bahwa lokasi industri pengolahan awal dalam proses hilirisasi terutama di wilayah-wilayah asal komoditas yang seringkali masih terkendala masalah konektivitas logistik maupun ketersediaan infrastruktur dasarnya, seperti listrik dan air bersih.

Dalam hal ini, tantangan konektivitas logistik mencakup jumlah, kualitas, dan kapasitas termasuk pemerataannya di berbagai wilayah yang membutuhkan peranan pemerintah maupun pelaku usaha. 

“Karenanya, penentuan lokasi itu juga bisa diarahkan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian wilayah, terutama untuk wilayah dengan tingkat pertumbuhan dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) rendah,” ujar Setijadi.

Dilansir dari Logistik News, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Triwulan 3-2023 wilayah Jawa berkontribusi tertinggi sebesar 57,12 persen, diikuti Sumatra (22,16 persen), Kalimantan (8,08 persen), dan Sulawesi (7,25 persen). Dua wilayah dengan kontribusi terendah adalah Bali dan Nusra (2,80 persen) serta Maluku dan Papua (2,59 persen).

Namun demikian, tingkat pertumbuhan tertinggi pada Triwulan itu adalah Maluku dan Papua (9,25 persen) serta Sulawesi (6,44 persen). Analisis SCI terhadap pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kedua wilayah tersebut dapat terjadi karena didorong oleh kinerja sektor pertambangan.

Baca juga: Peluang Logistik dalam Potensi Ladang Investasi di Jawa Barat

4. Kolaborasi bantu mewujudkan logistik terintegrasi 

kolaborasi logistik
Ilustrasi kolaborasi (pexels.com)

Dengan seluruh peran penting logistik terintegrasi tersebut, tentu tak terlepas dari adanya kolaborasi antar industri manufaktur dan penyedia jasa logistik. “tidak hanya secara transaksional namun juga secara transformasional secara jangka panjang” jelas Setijadi. 

Setijadi juga mengatakan kolaborasi dan sinergi juga harus dilakukan antar penyedia jasa logistik maupun antara penyedia jasa logistik dan operator fasilitas logistik seperti di pelabuhan.

Sumber:

  • logistiknews.id